Transportasi udara memiliki peran penting dalam menghubungkan berbagai wilayah di Indonesia, terutama karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau. Pesawat udara memberikan efisiensi waktu dan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan moda transportasi lainnya. Namun, aktivitas penerbangan juga menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang dapat memicu pemanasan global dan perubahan iklim.
Perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi sektor transportasi udara karena operasional penerbangan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan iklim. Bandara Hasanuddin Makassar sebagai salah satu bandara besar di Indonesia berpotensi mengalami dampak perubahan iklim berupa peningkatan suhu permukaan, kelembaban udara, dan curah hujan.
Penelitian ini membahas kondisi lingkungan Bandara Hasanuddin, ancaman dampak perubahan iklim terhadap operasional bandara, serta strategi adaptasi yang dapat diterapkan untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan.
Penelitian ini bertujuan untuk:
Penelitian menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan pengumpulan data lapangan dan dokumen resmi. Data dianalisis menggunakan metode statistik dan analisis risiko untuk mengetahui dampak perubahan iklim terhadap sistem penerbangan dan lingkungan bandara.
Bandara Hasanuddin terletak sekitar 30 km dari Kota Makassar dan berada pada ketinggian sekitar 14,33 meter di atas permukaan laut. Bandara ini memiliki dua landasan pacu dan melayani lalu lintas penerbangan yang cukup padat.
Data pengamatan tahun 2004–2013 menunjukkan adanya peningkatan suhu permukaan dan kelembaban udara di kawasan bandara.
| Tahun | Suhu Maret ( | 0 | C) | Suhu Oktober ( | 0 | C) | Kelembaban (%) |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 2004 | 30,4 | 33,9 | 79 | ||||
| 2005 | 31,5 | 33,6 | 78 | ||||
| 2006 | 31,5 | 35,4 | 78 | ||||
| 2007 | 31,7 | 34,1 | 81 | ||||
| 2008 | 31,6 | 34,7 | 82 | ||||
| 2009 | 32,1 | 34,8 | 81 | ||||
| 2010 | 32,5 | 32,0 | 87 | ||||
| 2011 | 30,8 | 33,8 | 82 | ||||
| 2012 | 30,9 | 35,4 | 84 | ||||
| 2013 | 31,6 | 34,1 | 84 |
Dalam kurun waktu 10 tahun terjadi kenaikan suhu rata-rata sekitar 1°C dan peningkatan kelembaban sekitar 5%.
Aktivitas pesawat terutama saat take off dan landing menyebabkan tingkat kebisingan tinggi di beberapa area sekitar bandara.
| Lokasi | Tingkat Kebisingan (dB) | Baku Mutu (dB) |
|---|---|---|
| ATKP Maros | 50,5 | 70 |
| Perum AP I | 95,9 | 70 |
| Bandara Lama | 66,7 | 70 |
| Grha Rio Asri | 95,9 | 70 |
| Parkir Bandara | 95,9 | 70 |
| Apron (B19) | 80,6 | 86 |
Beberapa lokasi telah melampaui ambang batas kebisingan yang ditetapkan pemerintah.
Hasil pengukuran kualitas udara menunjukkan bahwa parameter polutan masih berada di bawah ambang batas baku mutu.
| Parameter | Hasil Pengukuran (µg/Nm³) | Baku Mutu |
|---|---|---|
| SO2 | 10,126 | 900 |
| NO2 | 8,428 | 400 |
| O3 | 12,195 | 235 |
| CO | 21.417 | 30.000 |
| Pb | 0,048 | 2 |
| TSP | 21,573 | 230 |
Hal ini menunjukkan bahwa polusi udara belum menjadi ancaman utama di kawasan bandara.
Perubahan iklim di Bandara Hasanuddin terlihat dari peningkatan suhu permukaan, kelembaban udara, dan curah hujan.
Kenaikan suhu dapat menyebabkan:
Peningkatan curah hujan berpotensi menyebabkan:
Kekeringan dapat menyebabkan:
Beberapa strategi adaptasi yang dapat diterapkan di Bandara Hasanuddin antara lain:
Meningkatkan kapasitas drainase untuk mengurangi risiko banjir dan genangan air saat hujan deras.
Membangun sumur resapan dan kolam penampungan air hujan untuk meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah.
Menanam pohon di sekitar area bandara untuk membantu menurunkan suhu permukaan dan menyerap karbon dioksida.
Menggunakan panel surya sebagai sumber energi alternatif untuk mengurangi penggunaan listrik konvensional.
Melakukan pengaturan efisiensi penggunaan pendingin ruangan dan sistem pelayanan penumpang agar konsumsi energi lebih hemat.
Menerapkan konsep eco-office pada bangunan perkantoran bandara agar lebih hemat energi dan ramah lingkungan.
Melakukan pelatihan dan sosialisasi terkait perubahan iklim kepada personel bandara agar lebih siap menghadapi dampak perubahan iklim.
Perubahan iklim memberikan dampak besar terhadap sektor transportasi udara, khususnya pada operasional dan infrastruktur Bandara Hasanuddin Makassar. Peningkatan suhu, kelembaban, dan curah hujan berpotensi menimbulkan berbagai risiko seperti banjir, kerusakan infrastruktur, peningkatan kebutuhan energi, serta gangguan operasional penerbangan.
Untuk mengurangi dampak tersebut diperlukan strategi adaptasi seperti peningkatan sistem drainase, pembangunan sumur resapan, penggunaan energi ramah lingkungan, penerapan eco-office, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan bandara.
Perubahan Lingkungan dan Strategi Adaptasi Dampak Perubahan Iklim di Bandar Udara Hasanuddin Makassar. Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 1.